Cerita Sebelum Tidur
Dinda, apakah kabarmu?
Aku lepas menidurkan Ranaa. Ia bukan anak yang cengeng, tak pula rewel. Cukup diajak bernyanyi "ambilkan bulan" dan "bintang kecil" ia terkantuk. Lalu saat matanya telah menutup ku sambung membacakannya qur'an sampai kira-kira ia sudah pulas. Begitulah ritual kami mengakhiri setiap hari sepeninggalmu.
Dinda, aku hendak menyampaikan isi hatiku. Sama seperti dulu, semogalah kau mendengarku.
Dinda, selepas kau pergi, lazim orang-orang bertanya, "Bagimana kabarmu?" Pertanyaan yang biasa itu bermakna sesuatu dalam suasana ini. Tanya itu tanda kepedulian. Meskipun selalu ku jawab "Alhamdulillah membaik" tapi nyatanya membaik setelah kehilangan taklah seringkas itu. Dalam kasusku sendiri, kehampaan pasca ditinggalkanmu terus membekas, bahkan alih-alih menghilang ia terasa kian menebal.
Dinda, aku tak mau berisik. Tak mau menunjuk perasaan begitu. Aku sadar kalau aku bukan yang pertama merasai ini, bukan pula satu-satunya. Ramai yang serupa. Kiranya malu saja mengumbar cerita jamak begini, namun diperam sendiri sesak di dada. Itulah benar sudah untuk berluah pada Tuhan semata. Hanya pada-Nya saja senang ku ungkap sebenar yang dirasa. Cuma kepada-Nya tumpah air mata.
Dinda, atas beratnya perasaanku masa ini, sampailah aku berkata pada diriku sendiri, "Allah, betapa sayangnya Engkau padaku sehingga Engkau panggil istriku saat jalan sedang terjal menanjak. Yang dulu ku jalani berdua, sekarang ku tempuh seorang diri. Tak ada lagi kawan bercakap, berbagi keluh kesah. Adakah ini supaya aku tersadar dari hanyut bertumpu pada mahkluk? Allah, jika memang demikian, aku minta ampun. Jikalah memang demikian, mohon ampunkan pula kekasihku."
Lalu aku teringat perkataan-Nya, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Dinda, kemudian aku berdoa:
Allah,
Rasanya perjalanan ini sangatlah panjang. Sungguh, pangkalnya jauh ujungnya belum tiba.
Allah,
Kalaulah boleh meminta, kuatkanlah badan dan jiwaku. Jangan lelahkan jika belum sampai ke tujuan. Jangan rehatkan kalau belum tuntas perjuangan.
Allah,
Aku minta keselamatan untukku dan untuk ahli keluargaku. Jagalah aku dan mereka.
Allah,
Jika datang waktuku pulang. Mohonlah aku pergi dengan hati yang sejahtera dan kumpulkanlah aku dan keluargaku di tempat yang baik.
Dona, it’s been a long time since i met you last time saat aku bilang aku mau nulis novel, dalam diam dari jauh aku melihat hidupmu bertumbuh, lantas berbunga, aku baru tahu kabarmu usai membaca blog ini, aku berdoa kepada Allah semoga kamu dan anakmu diberikan kehidupan yang tenang dan damai, di dalam ruang tunggu sampai kelak nanti kalian bertiga dipersatukan di surga, kamu pasti sangat amat rindu kepada alm istrimu, anakmu pun demikian. Tidak akan kuucapkan sabarlah atau tabahlah karena kamu jelas lebih tahu makna itu. Banyak orang mendoakanmu dan mendapatkan kebaikan darimu, termasuk aku.
BalasHapus