Sisa Perjalanan
Dinda, ini kali pertamaku menulis surat lagi setelah kau pergi. Sempat ragu karena surat ini tak akan kau baca lagi. Tapi akhirnya ku tulis jua. Biarlah tak terbaca, biarlah bertumpuk saja di sini.
Dinda, aku rindu sekali padamu. Rindu yang tak terkira, yang tak ku ungkap dalam rupa apapun, tak pula pada siapapun, melainkan satu, pada Tuhan Yang Maha Memiliki. Harap-harap Ia Yang Maha Pemurah menyampaikan padamu kalau kami baik-baik saja; meskipun setengah mati kami berusaha merasa demikian.
Dinda, hari ini penandaan isra' mi'raj. Masa belajar dulu dipahamkan Nabi diperjalankan Tuhan melintasi ruang-masa untuk menjemput perintah sembayang lima waktu sehari semalam. Kejadian yang tak termakan akal, hanya dapat diterima dengan iman.
Dinda, peristiwa itu undangan Tuhan pada Nabi yang sedih hati sebab ditinggal mati oleh yang disayangnya. Tak satu, tapi dua: seorang istri setia teman perjuangan, seorang paman yang teguh membela. Masa yang teramat sulit bagi Nabi sehinggalah tahun itu disebut Tahun Kesedihan.
Dinda, tentu tak berbanding dengan apa yang Nabi alami, tapi ku rasa kejadian ribuan tahun lalu itu selaras makna pada apa yang menimpaku sekarang. Aku seperti diingatkan kalau pelipur lara itu tak usah dicari kemana-mana. Hanyalah dengan mengembalikan semua pada Tuhan tenang dapat dicapai. Bukan bermaksud tak mengganggap upaya penghiburan yang disampaikan keluarga dan rekan sejawat yang berbondong datang melawat, tapi mengingati kalau "sejatinya kita ini milik Tuhan dan pada-Nya semua kita akan kembali" adalah obat paling mujarab. Kau memang bukan milikku, tak pernah menjadi milikku. Kau milik-Nya, aku pun begitu.
Dinda, rupanya nestapa ini sebab aku terlupa atas apa yang lazim kita berdua ucap, "Kita ini teman berjalan. Saling mengantar ke tempat tujuan. Kalau telah tiba satu di antara kita, maka yang lain sila lanjutkan hingga tiba pula ditujuan."
Dinda, semogalah kita bersua kembali. Kau tunggulah dalam masa sebentar. Istirahatlah dulu melepas lelah. Atas cintaku padamu, aku teruskan perjalanan.
Bismillah.
Semoga mas Dona dan ananda selalu dalam kelapangan dan ketenangan.
BalasHapus