Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Lurus Terus Sampai Rumah

Dinda, malam ini aku merunut kembali rekaman percakapan kita. Rupanya ada banyak hal yang kita pernah bincangkan. Mulai hal sepele sampai bahasan pelik. Tahukah kau kalau di antara yang paling sering adalah soalan kematian. Selalu apapun itu dikait dengan kejadian akhir hayat.  Ada satu yang lekat dalam ingatanku. Saat itu aku mengirimimu tautan tayangan tentang seorang penjual bakmi yang membagi cerita usaha kecilnya sambil berjualan gambar karya sendiri. Di antaranya diberi judul 'Lurus Terus Sampai Rumah'. Menurut ia, gambar itu memuat pesan jika tak ada yang seberapa penting mestinya langsung pulang ke rumah selepas kerja agar sempat bercakap-cakap dengan istri yang menanti.  Usai menyimak tuntas, lalu kau melirik ke arahku, mengangguk-angguk sambil mengusap dagu, dan lanjut berkata, " Tuh mas. " Singkat tetapi jelas itu isyarat sepakatmu. Kemudian ku bilang, " Aku menangkap lain. " Kau membuat wajah penasaran. Barangkali bertanya perihal apa kira-kira a...

Dua Cerita Untukmu

Dinda, Ramadhan tahun ini hampir usai. Akankah aku bertemu ia lagi tahun depan? Wajar pertanyaan itu sebab sebagaimana engkau begitu juga aku. Jika tahun lalu kau masih mendapatinya tetapi tidak di tahun ini, maka sangat mungkin perjumpaanku tahun ini tak lagi terulang pada tahun mendatang. Pikiran demikian bukanlah pikiran pesimis, justru sebaliknya, berpikir begitu memacu diri agar lebih gesit membuat manfaat daripada berlaku sia-sia. Dinda, semoga Tuhan merahmatimu.  Dinda, aku punya dua potong cerita yang hendak ku bagi padamu yang ku selipkan pada surat ini. Aku tak pasti kau membacanya. Tak mengapa jika memang tidak. Anggaplah sebagai catatanku saja dan upaya pengurai rindu. Dinda, cerita pertama tentang akhir pekan lalu. Jum'at malam aku tiba di rumah ibu. Ranaa sudah seminggu di sana. Ikut neneknya yang harus pulang dulu karena keperluan mengurus panen padi. Melihatku sampai, bapak segera memanggil Ranaa dan bilang kalau bapaknya datang. Ia berlari keluar, menghamburkan mai...

Cerita Sebelum Tidur

Dinda, apakah kabarmu? Aku lepas menidurkan Ranaa. Ia bukan anak yang cengeng, tak pula rewel. Cukup diajak bernyanyi "ambilkan bulan" dan "bintang kecil" ia terkantuk. Lalu saat matanya telah menutup ku sambung membacakannya qur'an sampai kira-kira ia sudah pulas. Begitulah ritual kami mengakhiri setiap hari sepeninggalmu.  Dinda, aku hendak menyampaikan isi hatiku. Sama seperti dulu, semogalah kau mendengarku. Dinda, selepas kau pergi, lazim orang-orang bertanya, " Bagimana kabarmu? " Pertanyaan yang biasa itu bermakna sesuatu dalam suasana ini. Tanya itu tanda kepedulian. Meskipun selalu ku jawab " Alhamdulillah membaik " tapi nyatanya membaik setelah kehilangan taklah seringkas itu. Dalam kasusku sendiri, kehampaan pasca ditinggalkanmu terus membekas, bahkan alih-alih menghilang ia terasa kian menebal. Dinda, aku tak mau berisik. Tak mau menunjuk perasaan begitu. Aku sadar kalau aku bukan yang pertama merasai ini, bukan pula satu-satunya....

Sisa Perjalanan

Dinda, ini kali pertamaku menulis surat lagi setelah kau pergi. Sempat ragu karena surat ini tak akan kau baca lagi. Tapi akhirnya ku tulis jua. Biarlah tak terbaca, biarlah bertumpuk saja di sini.  Dinda, aku rindu sekali padamu. Rindu yang tak terkira, yang tak ku ungkap dalam rupa apapun, tak pula pada siapapun, melainkan satu, pada Tuhan Yang Maha Memiliki. Harap-harap Ia Yang Maha Pemurah menyampaikan padamu kalau kami baik-baik saja; meskipun setengah mati kami berusaha merasa demikian. Dinda, hari ini penandaan isra' mi'raj. Masa belajar dulu dipahamkan Nabi diperjalankan Tuhan melintasi ruang-masa untuk menjemput perintah sembayang lima waktu sehari semalam. Kejadian yang tak termakan akal, hanya dapat diterima dengan iman.  Dinda, peristiwa itu undangan Tuhan pada Nabi yang sedih hati sebab ditinggal mati oleh yang disayangnya. Tak satu, tapi dua: seorang istri setia teman perjuangan, seorang paman yang teguh membela. Masa yang teramat sulit bagi Nabi sehinggalah tahu...