Lurus Terus Sampai Rumah

Dinda, malam ini aku merunut kembali rekaman percakapan kita. Rupanya ada banyak hal yang kita pernah bincangkan. Mulai hal sepele sampai bahasan pelik. Tahukah kau kalau di antara yang paling sering adalah soalan kematian. Selalu apapun itu dikait dengan kejadian akhir hayat. 

Ada satu yang lekat dalam ingatanku. Saat itu aku mengirimimu tautan tayangan tentang seorang penjual bakmi yang membagi cerita usaha kecilnya sambil berjualan gambar karya sendiri. Di antaranya diberi judul 'Lurus Terus Sampai Rumah'. Menurut ia, gambar itu memuat pesan jika tak ada yang seberapa penting mestinya langsung pulang ke rumah selepas kerja agar sempat bercakap-cakap dengan istri yang menanti. 

Usai menyimak tuntas, lalu kau melirik ke arahku, mengangguk-angguk sambil mengusap dagu, dan lanjut berkata, "Tuh mas." Singkat tetapi jelas itu isyarat sepakatmu. Kemudian ku bilang, "Aku menangkap lain." Kau membuat wajah penasaran. Barangkali bertanya perihal apa kira-kira aku tak setuju. Lalu aku berdalih begini: "Aku tak pasti mengapa, tapi aku menafsir saja kalau ungkapan Lurus Terus Sampai Rumah itu soal perjuangan menempuh jalan yang lurus selurus-lurusnya hinggalah ke akhir hidup yang selamat." Mendengar itu kau diam; tak membantahnya.

Sejak itulah kalau kiranya di antara kita tampak ragu atau mengeluh perihal terjalnya pengalaman hidup yang dirasai, maka dipakailah kalimat "luruslah terus sampai rumah". Seakan itu menyuntikkan semangat agar tak menyerah; tak menyimpang atau berbalik arah; terus saja berjalan sampai dijumpai akhir yang dijanjikan. Demikianlah sepotong perbualan kita. Membekas pekat dalam ingatan. 

Ketahuilah Dinda, aku cemburu padamu. Kau telah sampai di sana sedang aku masih di sini. Kau telah dapat berehat sedang aku masih perlu bersusah payah memelihara langkah agar terus berjalan lurus. Dinda, doakan aku tiba di rumah dengan selamat! 

Komentar