Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2022

Perihal Bangga

Dinda, apa kabar? Aku baik-baik saja dan semoga kau pula. Sabtu pagi dengan gerimis di sini. Rencana mencuci pakaian ku undur saja dulu. Aku sebenarnya juga sedang menunggu datang seorang kawan. Ia mengabariku kemarin pagi akan berkunjung ke sini. Dulu kami sama-sama sekolah di sini dan sekarang ia telah mengajar di kampus. Bangga juga saya punya kawan hebat begini. Eh, omong-omong soal bangga, aku ingin cerita tentang bangga versiku. Menurutku kau perlu tahu soal ini. Selain agar kau tak salah tafsir tentangku, juga supaya kau punya kesempatan mengukur keyakinan padaku. Dinda, ketika di sekolah menengah pertama, di kelas tujuh seingatku, guru matematika kami menjelaskan dua cara untuk menyelesaikan satu soal. Yang pertama adalah cara yang sederhana dan singkat untuk mendapat jawaban, sedangkan yang satunya lagi lebih panjang dan rumit. Lalu kami diberi satu soal latihan untuk dikerjakan. Selang beberapa menit guru bertanya apa jawabannya. Hampir semua murid meneriakkan jawaban mereka....

Three Old Men

Empat tahun lebih tak terasa aku menetap di sini. Semula ku pikir akan singkat saja. Selepas sekolah akan pergi ke tempat lain tapi rupanya hingga kini tak juga berpisah. Sempat berpisah tapi hanya dua bulan. Lalu aku di-kembali-kan di sini, persis di sini di tempat empat tahun itu. Selama di sini aku rutin sembayang ke masjid yang letaknya di seberang rumah sewaku. Masjidnya bagus, bergaya modern dan bersih. Masjid ini punya pribadi loh, Dinda. Milik pasangan suami-istri asal Bengkulu-Palembang pengusaha perkebunan. Semua-semua yang diperlukan masjid ini ditanggung mereka sendiri. Hebat ya! Nanti kita bikin satu yang macam ini ya Dinda. Aamiin.  Selama empat tahun itu macam-macam peristiwa telah terjadi, termasuk di masjid tadi. Di antara yang paling berkesan adalah tentang tiga kakek tua. Ini adalah hasil risetku dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Observasinya memakan waktu tahunan hingga dapat sampai pada bagian kesimpulannya pagi ini. Begini ceritanya.  K...

Tak Pulang

Gambar
Dinda, besok lebaran loh. Adakah kau siapkan satu yang spesial menyambut hari raya besok itu? Mestinya ada sebab sudah tradisi kita yang demikian. Sekedar tanda kalau itu hari yang khusus dan monumental: saat berkumpul bersama keluarga tercinta. Dinda, aku tak pulang. Jangan kesal dulu. Tenang, ibu-bapak telah ku kabari kalau aku tak akan pulang. Tenang. Mereka telah ku beritahu sejak sebelum aku kembali ke sini. Tenang. Mereka mengizinkanku. Kalau kau massih belum tuntas dan masih merasa kalau aku begitu tega, sini aku beri alasannya. Satu. Sebulan lalu aku telah pulang. Dua bulan lamanya. Ku rasa kau tahu itu. Aku pikir itu masih sebulan lalu dan tanggung jaka pulang lagi dan pasti itu akan makan biaya. Yang kedua ini jadi alasan keduaku. Yang ketiga, aku segan sering-sering pulang sementara adikku yang lelaki sudah dua tahun tak dapat pulang. Janjinya masih belum tuni soal " belum pulang kalau belum tamat ". Ini solidaritas kakak-adik. Ini pula wujud dukunganku untuknya ag...