Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2021

Aku, Nenek, Ibu, dan Sore

Waktu pulang kemarin aku menyempatkan ke rumah nenek. Ia adalah ibunya ibuku. Rumahnya terhalang 3 atau 4 desa dari desa tempat kami tinggal. Sudah hampir setahun aku tak pulang ke rumah dan tak berjumpa dengan keluarga lengkap di sini. Namun sore ini setelah pulang dari kota aku memutuskan singgah ke rumah nenek.  Seporsi martabak kacang-tape ku bawa. Ku harap beliau menyukainya.  Aku tiba dan memarkirkan motor di depan rumah. Ku lihat tak ada siapa. Sepertinya Mak Nga, kakak ibuku yang biasa merawat nenek sehari-hari, sedang pulang ke rumahnya. Lalu aku membuka pintu dan mulai masuk ke dalam sambil memanggil nenek. Karena telah sore, ruangan tampak remang.  Kemudian di ruang tengah aku melihat nenek. Mendapatinya tengah duduk di atas kursi kayu, menyampingi meja dengen setoples biskuit dan segelas air. Nenek duduk diam di sana. Aku menghampirinya dan menyapanya. Ia diam, sepertinya tak menyadari kehadiranku.  Aku lalu mengambil tempat duduk di hadapannya. Lalu ku t...

Kadar Cinta

Malam ini aku tidur agak terlambat. Sejak selesai sholat Isya' aku hanya duduk-duduk di dalam kamar. Ku putar nada-nada tenang dari beberapa cuplikan, lalu membaca ulang surat-surat yang pernah ku kirimkan. Membacanya satu-satu membuatku kembali ke setiap cerita berikut rasa kala menulisnya. Meski suratku tak pernah kau balas, aku terus menulis dan mengirimnya. Tak peduli jika surat-surat itu pun tak kau baca. Bagiku, tak penting balasanmu. Yang jatuh cinta adalah aku, maka akan ku nikmati ini semauku. Kau tak perlu tak enak hati. Tak usah memaksa bicara. Aku justru senang begini. Aku berdaulat atas cintaku. Tak terjajah rasa. Bukankah yang penting adalah mencinta dengan merdeka? Dengan itu kadarnya murni, bukan imitasi.  Satu waktu aku pernah berpikir mengapa kadar cintaku begini. Tapi kemudian ku jawab sendiri. "Yang begini adalah yang baik." Beginilah caraku kepadamu. Nanti kau akan tahu.