Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Profesor dan Niatnya

Gambar
Pukul 2 dini hari kemarin aku menerima pesan singkat via whatsapp. Ku lihat pengirimnya adalah Pak Andri. Oh ya Dinda, kau belum ku kenalkan padanya. Ia adalah pembimbing tesisku. Begini bunyi pesannya, "Saya baru dapat kabar tadi jam 19 kalau surat profesor saya sudah ditandatangani menteri. Kalau kalian sudah tahu dari orang lain, mohon maaf. Saya ingin kalian tahu dr saya langsung, krn mahasiswa2 luar biasa seperti kalian lah yg membuat saya tetap semangat menjadi dosen dan menulis. Kalian lah justru yang menjadi inspirasi dan sumber semangat dan pengetahuan saya. Terima kasih banyak ya ...(katanya jangan pakai satu titik. Seperti orang lg marah....)". Kami, semua muridnya, sepertinya persis menerima pesan begitu. Beliau akan jadi profesor di bidang hukum lingkungan. Beliau sangat layak untuk itu. Ah aku merasa sangat beruntung setahun ini belajar dan dibimbing olehnya. Tipe yang cuek tapi baik ternyata adalah tipeku. Cerdas tapi sederhana itulah dia orangnya. Din...

Dua Draf Artikel

Gambar
Dalam dua draf artikel berhalaman dua puluhan lembar  masing-masing  itu ada dua belas bulan hidupku.  Dimulai pada bulan Mei. Aku ingat sebab aku memberi tanda padanya. Waktu itu ku beritahu diriku, “Kau suka kau pilih. Kau pilih berlandas timbang manfaat-mudharat. Lepas kau pilih, yang dimulai tak boleh tak selesai”. Membara lagi semangat itu kalau kuingat-ingat lagi tekad itu.  "Kok lama?" tanyamu. "Sebab bercampur malas, hari libur, kecewa, dan asmara. hahahaa", jawabku . “Memanglah yang digelari tekad itu mesti diuji, tak hanya lekat di mulut.”  Lalu kau bertanya lagi, " bagaimana  sekarang ?   Sudah  selesai?" "Belum. Ternyata aku memilih masalah yang bersambung-sambung.  Mujurnya aku menikmatinya. "  Kau sempat diam. Lalu lanjut bertanya,  "kapan selesainya?"  Sekarang aku yang terjeda diam. Agak panjang darimu sebelumnya. Lalu ku angkat suara,  " b elum tahu. Ku harap segera."  Sekarang kita berdua terdia...

Cerita tentang Ibu

Dinda, kau tahu apa yang ku alami hari ini? Pagi tadi aku menelpon ke rumah. Bapak yang menjawab. Ku tanya, “mana ibu, pak?” “Ibu sedang kurang sehat”, jawab bapak. Dari nada bicara bapak, aku tahu aku tak perlu khawatir. Tapi entah mengapa seharian ini pikiranku terus saja bolak-balik ke rumah, ke kamar ibu, ke tempat ia tertidur merehatkan kepalanya yang pusing.  Dinda, aku baru menyadari sesuatu. Aku beruntung aku sempat. Ketika tiba di usia ini, aku merasa semakin utuh melihat cinta ibu padaku, cintanya pada kami semua. Aku tak tahu bagaimana ia melakukannya, bagaimana ia dapat membagi cinta hingga masing-masing kami memilikinya dan tak pernah kekurangan. Ku rasa hatinya adalah samudera kasih sayang. Dinda, aku sungguh baru sadar kalau ibu adalah yang paling tulus. Tak ada sesiapa pun wanita yang telah berbuat demikian banyaknya untukku selain ia. Kau tahu Dinda, setiap ibu merawat anak-anaknya melampaui umur mereka. Sejak pertama seorang anak lahir ke dunia, ibunya te...

Tak Banyak Mengeluh

Pagi Dinda, Saat ini aku tengah jeda dari rutinitasku hampir satu tahun belakangan ini. Apalagi kalau bukan "nesis". Eh, sedikit lagi tuntas loh. Minggu depan sesuai rencana, dan kalau rencana itu berjalan sesuai rencana, aku akan ujian. Tak sabar rasanya membagi tahu dunia tentang apa yang telah kutemukan. Entah kenapa bagiku tesis ini macam masterpiece  dalam sejarah belajarku. Kita lihat nanti apakah demikian juga menurut para penguji. Sebenarnya masih banyak yang ingin kuceritakan soal ini, tapi nanti saja kalau sudah ujian. Eh, beberapa hari lalu ada temanku yang bertanya tentangmu. Aku tak memberinya sepotong wajah, tapi kujawab, "dia tak banyak mengeluh". Kapan-kapan kukenalkan kau pada temanku itu.

Ruang Baru

Hai Dinda, Ini ruang baru kita. Belum tertata rapi, tapi akan kukerjakan perlahan agar nyaman ditinggali.  Sekarang pagi hari di sini. Udara sedikit dingin. Kurasa akan turun hujan. Bagaimana kabarmu di sana? Apakah semuanya baik-baik saja? Semoga demikian. Kalaupun tidak, kau selalu punya Tuhan untuk mencari harapan dan pertolongan. Dinda, di awal tahun ini aku tiba-tiba ingat seseorang. Putri namanya. Sempat beberapa hari lalu kuberitahu kau tentangnya. Ia mengambil peran tentang terhubungnya kita. Aku ingat suatu hari tak sengaja mampir ke tempatnya. Ia tengah pergi, namun ruangannya tak kosong. Bercampur di sana cerita dan puisi. Kubaca lembar demi lembar dan dapat kurasai apa yang ia rasa serta kudapati baris kata itu ternyata bernada. Sejak itu aku sering berkunjung. Ia tak tahu bahkan hingga hari ini.  Kini aku pula telah punya ruangan sendiri. Meskipun tak semacam miliknya yang sudah tentu lebih indah, tapi aku telah punya sendiri, ruang ini. ...