Cerita tentang Ibu
Dinda, kau tahu apa yang ku alami hari ini? Pagi tadi aku menelpon ke rumah. Bapak yang menjawab. Ku tanya, “mana ibu, pak?” “Ibu sedang kurang sehat”, jawab bapak. Dari nada bicara bapak, aku tahu aku tak perlu khawatir. Tapi entah mengapa seharian ini pikiranku terus saja bolak-balik ke rumah, ke kamar ibu, ke tempat ia tertidur merehatkan kepalanya yang pusing.
Dinda, aku baru menyadari sesuatu. Aku beruntung aku sempat. Ketika tiba di usia ini, aku merasa semakin utuh melihat cinta ibu padaku, cintanya pada kami semua. Aku tak tahu bagaimana ia melakukannya, bagaimana ia dapat membagi cinta hingga masing-masing kami memilikinya dan tak pernah kekurangan. Ku rasa hatinya adalah samudera kasih sayang.
Dinda, aku sungguh baru sadar kalau ibu adalah yang paling tulus. Tak ada sesiapa pun wanita yang telah berbuat demikian banyaknya untukku selain ia. Kau tahu Dinda, setiap ibu merawat anak-anaknya melampaui umur mereka. Sejak pertama seorang anak lahir ke dunia, ibunya telah menyiapkan masa depan yang sempurna. Inilah mengapa ibu tak sempat mengurus dirinya sendiri. Ia terlampau sibuk mengurus kami. Memastikan agar kami dapat hidup baik, tetap baik bahkan setelah ia pergi nanti. Dalam rencananya, dia adalah yang akan lebih dahulu pergi setelah mengatar kami semua, satu per satu, kepada bahagia masing-masing. Itulah sebab ketulusannya tak akan pernah berbanding dan terbalas apapun.
Dinda, di usia ini aku sungguh melihatnya. Aku sungguh melihat cintanya. Sekarang aku tahu mengapa bapak lebih sering menceritakan ibunya daripada tentang bapaknya. Aku paham sekarang mengapa bapak tampak begitu dalam kala mengenang ibunya. Sepenuhnya, sekarang, aku paham mengapa Nabi menyebut ibu tiga kali, mengapa surga ada di bawah telapak kakinya, dan mengapa semua bapak tidak membantahnya.
Dinda, kau beruntung.
Komentar
Posting Komentar