Lurus Terus Sampai Rumah
Dinda, malam ini aku merunut kembali rekaman percakapan kita. Rupanya ada banyak hal yang kita pernah bincangkan. Mulai hal sepele sampai bahasan pelik. Tahukah kau kalau di antara yang paling sering adalah soalan kematian. Selalu apapun itu dikait dengan kejadian akhir hayat. Ada satu yang lekat dalam ingatanku. Saat itu aku mengirimimu tautan tayangan tentang seorang penjual bakmi yang membagi cerita usaha kecilnya sambil berjualan gambar karya sendiri. Di antaranya diberi judul 'Lurus Terus Sampai Rumah'. Menurut ia, gambar itu memuat pesan jika tak ada yang seberapa penting mestinya langsung pulang ke rumah selepas kerja agar sempat bercakap-cakap dengan istri yang menanti. Usai menyimak tuntas, lalu kau melirik ke arahku, mengangguk-angguk sambil mengusap dagu, dan lanjut berkata, " Tuh mas. " Singkat tetapi jelas itu isyarat sepakatmu. Kemudian ku bilang, " Aku menangkap lain. " Kau membuat wajah penasaran. Barangkali bertanya perihal apa kira-kira a...