Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Cerita Sebelum Tidur

Dinda, apakah kabarmu? Aku lepas menidurkan Ranaa. Ia bukan anak yang cengeng, tak pula rewel. Cukup diajak bernyanyi "ambilkan bulan" dan "bintang kecil" ia terkantuk. Lalu saat matanya telah menutup ku sambung membacakannya qur'an sampai kira-kira ia sudah pulas. Begitulah ritual kami mengakhiri setiap hari sepeninggalmu.  Dinda, aku hendak menyampaikan isi hatiku. Sama seperti dulu, semogalah kau mendengarku. Dinda, selepas kau pergi, lazim orang-orang bertanya, " Bagimana kabarmu? " Pertanyaan yang biasa itu bermakna sesuatu dalam suasana ini. Tanya itu tanda kepedulian. Meskipun selalu ku jawab " Alhamdulillah membaik " tapi nyatanya membaik setelah kehilangan taklah seringkas itu. Dalam kasusku sendiri, kehampaan pasca ditinggalkanmu terus membekas, bahkan alih-alih menghilang ia terasa kian menebal. Dinda, aku tak mau berisik. Tak mau menunjuk perasaan begitu. Aku sadar kalau aku bukan yang pertama merasai ini, bukan pula satu-satunya....

Sisa Perjalanan

Dinda, ini kali pertamaku menulis surat lagi setelah kau pergi. Sempat ragu karena surat ini tak akan kau baca lagi. Tapi akhirnya ku tulis jua. Biarlah tak terbaca, biarlah bertumpuk saja di sini.  Dinda, aku rindu sekali padamu. Rindu yang tak terkira, yang tak ku ungkap dalam rupa apapun, tak pula pada siapapun, melainkan satu, pada Tuhan Yang Maha Memiliki. Harap-harap Ia Yang Maha Pemurah menyampaikan padamu kalau kami baik-baik saja; meskipun setengah mati kami berusaha merasa demikian. Dinda, hari ini penandaan isra' mi'raj. Masa belajar dulu dipahamkan Nabi diperjalankan Tuhan melintasi ruang-masa untuk menjemput perintah sembayang lima waktu sehari semalam. Kejadian yang tak termakan akal, hanya dapat diterima dengan iman.  Dinda, peristiwa itu undangan Tuhan pada Nabi yang sedih hati sebab ditinggal mati oleh yang disayangnya. Tak satu, tapi dua: seorang istri setia teman perjuangan, seorang paman yang teguh membela. Masa yang teramat sulit bagi Nabi sehinggalah tahu...