Surat Tugas Tuhan
Dinda, penugasan pertamaku di sini dihantar kabar kematian. Seorang pamanku meninggal dini hari tadi. Kepergian itu menjadikan yatim empat anak-anak berdekatan usia. Lekas tahu bapaknya telah tiada, sulung yang tak terseka air matanya bertanya pada bapakku, "Pak Wau, kemana kami kami setelah bapak mati?" Bapakku menjawab tak ragu, "Kalian dengan Pak Wau." Begitu tutur ibuku dalam telpon.
Dinda, cerita itu kuulang kepadamu. Lalu usainya kau sebut kata ini, "Kak, bantulah mereka. Bukankah itu tujuan rumah tangga kita."
Dinda, sekarang kalimatmu itu kuulang dalam surat ini agar semua tahu betapa lapangnya hati perempuanku. Betapa bangganya aku.
Dinda, surat ini kutembuskan pada Tuhan sehingga Ia Yang Maha Kuasa menakdirkan perjumpaan yang cukup untuk kita di sini dan mengekalkan sisanya di sana nanti.
Hari ini dicukupkan untuk di sini, semoga sisanya kekal, abadi tak mati-mati, di tempat Dindamu menunggu dengan cantiknya yang abadi seperti yang kita semua kenal. Tabah, Pak.
BalasHapusTidak ada yang akan ragu tentang lapangnya hati Dinda, semua yang mengenalnya akan setuju. Terbang yang tinggi ke taman yang paling indah, Dinda.
BalasHapusJika dindamu begitu baik maka allah tidak akan salah tempat menitipkan ujian pada kandanya 🙏
BalasHapusMasyaa Allah, Jannah untuk Dinda insyaa Allah
BalasHapusKebaikan dan senyuman tulus dindamu sudah menghangatkan banyak hati pak,
BalasHapus