Seminggu Dalam Selembar Surat

Halo Dinda. Apa kabar? Sekarang Sabtu sore di sini.

Dinda, aku tak punya rencana pergi malam ini. Sepertinya akan lebih baik kalau tidak kemana-mana. Mungkin membaca beberapa artikel atau memutar lagi film favoritku "Little Forest" akan cepat membunuh sehari setengah akhir pekan yang tersisa. 

Dinda, maukah kau mendengar cerita semingguku? Aku angap kau setuju, maka simaklah.

Dinda, seminggu ini aku rutin berangkat ke tempat kerja lebih awal. Belakangan load pekerjaan cukup banyak. Beberapa menuntut diselesaikan segera sementara yang lain telah menunggu. Tak apa begitu. Sungguh! Dengan itu aku tak lagi merasa bersalah kala tiba waktu terima upah. Hehe...

Dinda, aku suka saat makan siang dan benci waktu makan malam. Bukan tak bersyukur, tapi sebab makan malamku kerap kali tak berteman. Bukan karena aku tak punya cukup kawan, tapi seramai apapun manusia di sekeliling dan sebanyak apapun transaksi cerita tetap tak meluruh karat gelisah. Maka itu ku pilih tinggal lebih lama di tempat kerja dan pulang lebih larut. Berharap larut pula rindu padamu yang bertumpuk-tumpuk itu. 

Dalam situasi itu aku sebenarnya tak apa-apa. Janganlah dibanyangkan sampai tak tayang lagi senyum di wajah atau melulu kelam raut muka. Tak lah sampai begitu. Tapi manakala mengingat tentangmu, seketika sendu saja suasana hati. Hujan kenangan lalu menggenang hingga semata kaki di dalam pikiran. 

Dinda, tahukah kau kalau dalam tiga bulan ini beratku naik lima kilo. Program pengentasan "tampilan kurang terurus" agaknya cukup berhasil. Dinda, rambutku yang ku cukur jadi satu senti sebulan lalu itu telah mulai panjang lagi. Bentuk kepala yang semula macam telur asin kini seperti jamur. Mungkin kalau kau lihat sendiri, kau akan bilang "nggak keren". Haha ... Dinda, tiga hari ini hujan rutin turun di sini. Sekali waktu pernah lah aku kehujanan. Basah sebatang badan. Untungnya tidak membuat sakit. Sepertinya niat beli baju hujan yang terus betal itu sudah saatnya diwujudkan. 

Dinda, rasanya akan menyenangkan kalau kau di sini dan aku bisa mengadu langsung padamu tentang hari-hariku. Rasanya juga akan menyenangkan mendengar kau bercerita perihal harimu. Tak apa belum bisa sekarang. Surat-surat ini masih mencukupi buat kita sementara berjarak. Nanti bila tiba waktunya berjumpa, surat-surat ini akan jadi pengingat cara kita merawat cinta. Sekaligus sebagai penanda kalau aku telah jatuh padamu bahkan sebelum kita bertemu. Ciee... Hahaha

Komentar

  1. Setiap membaca surat untuk Dinda dari kanda, ku bayangkan Dinda membacanya sambil tersenyum dengan hati yang lembut dan tenang

    BalasHapus
  2. Jadi kepikiran kalo dinda yg dimaksud akan baca ini, seberuntung itu dia

    BalasHapus
  3. Semoga segera Allah pertemukan dengan dinda yg menyambutmu pulang dengan senyuman, dan selalu setia mendengarkan setiap cerita.. Terima kasih sudah merawat cinta tanpa menodainya

    BalasHapus
  4. Sudah hampir 8 tahun yg lalu tidak membaca finding dinda, dan malam ini aku mulai membacanya lagi, tetaplah menulis kanda meski dindamu sudah kau temukan.

    BalasHapus

Posting Komentar