Tawakal

Dinda, kau pernah patah hati? Kalau aku pernah. Malu mengaku tapi ku rasa kau perlu tahu. Kau perlu tahu kalau aku tak sekuat itu; tak setegar yang kau dengar dari orang-orang. 

Dinda, aku malu mengaku lagi tapi aku ini pengecut juga. Ingin mengecap manis tapi tak siap merasa pahit. Berhasrat pada bahagia tapi enggan merasa derita. Padahal khatam kajiku kalau tak ada tikungan tak berbalas, tak ada lereng selalu melainkan tanjakan di muka telah menunggu. 

Dinda, kini kau tahu lelaki macam apa aku ini dan sebab kau sudah tahu yang itu, maka akan ku beritahu juga kau yang ini. 

Dinda, sekalipun lara mengancam agar tak lagi bertaruh nasib, tapi aku ini jenis manusia nekat. Nekatlah yang membabat ragu. Nekat menjemput berani lalu mewujud jadi kata dan tingkah. Maka meski tahu tinggi jalan menanjak, ku daki jua atas yakin melihat padang bunga di sebaliknya; meski beribu kelokan tajam, ku tempuh juga bila mengarah pada tujuan yang lama didamba. 

Dahulu nekadku adalah pertaruhan. Tapi setelah ku tinjau lagi nekat itu rupanya perlu dipandu. Dinda, sebaik-baik pemandunya adalah batasan Tuhan. Sekalipun besar hasrat atas sesuatu atau atas seseorang, maka jangan diturut mau itu kalau dianya sendiri atau jalan menujunya melanggar rambu-rambu Tuhan. Berat memang, tapi batasan itulah yang menjaga kehormatan. Jika masih juga kau maui tapi tak kau temui caranya lagi, maka kau tawakallah. Tawakal bukan serupa sikap putus asa. Tawakal adalah cara paling mulia seorang hamba beriman yang teringin sesuatu. Ia insyaf kalau ia tak berdaya tapi ia menitipkan harap pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dinda, manakala cintaku bersemi padamu, ku pastikan akan kau terima dengan terhormat. Aku bertawakal dan sebaiknya kau pula. Dengan inilah lalu kita bersama.

Komentar

  1. Aku mau tanya, apa yg kamu lakukan pas kamu merasa patah hati pada saat itu? Jujur, aku msh belum tau bagaimana cara menghilangkan perasaan sakit itu padahal sudah seberusaha itu aku untuk menghilangkan perasaan itu

    BalasHapus

Posting Komentar