Kunjungan Akhir Pekan

Dinda, apa kabarmu? Semuanya aman? Insya Allah selama kau bersama Tuhan, semua akan aman. Tak usah khawatirkan yang sedang terjadi sekarang. Serahkan saja pada jalannya Tuhan, maka semua akan menjadi yang semestinya. 

Dinda, pagi tadi lepas menyelesaikan semua hutang tugas Jum'at lalu, aku dihubungi seorang kawan. Ia bertanya apakah boleh mampir ke tempatku hari ini. Aku menjawab tentu saja boleh. Sudah lama memang kami tak saling jumpa. Terakhir dua tahun lalu di hari wisudaku, sekitar sebulan sebelum pandemi. Maka kala ia mengajak bersua tentulah aku menyambutnya dengan senang hati. Ini akan menjadi kunjungan akhir pekan yang menyenangkan.

Selesai sembayang Dzuhur benar saja ia tiba. Usai berbasa-basi saling bertanya kabar dan kegiatan, maka selanjutnya diteruskan dengan percakapan intim kawan lama. Ia mulai dengan mengeluhkan studinya yang belum selesai. Banyak kendala katanya, ini dan itu. Aku menabahinya dan menyuruhnya agar tak lekas putus asa. Lalu ia membuka pembahasan baru, yang sebenarnya telah dapat tertebak bahkan sejak ia masih di gerbang tadi. Aku yakin betul ia akan membincangkan topik ini. 

"Lalu kapan rencanamu menikah?" "Sudah ada calon kah?" "Atau barangkali sudah tahap serius nih?" Bertubi-tubi pertanyaan itu dilayangkannya. Nafsu betul tampaknya ia menjejali telinga kawannya ini dengan tiga tanda tanya sekaligus. Sungguh tak berperasaan, keluhku dalam hati. Tapi begitulah ia. Kalau tidak begitu, maka ia bukan kawanku yang ku kenal. Aku senyum-senyum meringis. Jawaban singkat-padat yang ia dapat artikan seketika. "Ah sama saja kita ini rupanya," katanya yang disambung dengan tawa lepas. Aku pun ikut tertawa. Menertawakan nasib kami berdua sebagaimana biasanya. Hahahaha...

"Begini rupanya hidup membawa kita ya?" Tiba-tiba ia menutup tawa dan menyambung dengan kalimat itu yang entah pertanyaan atau pernyataan. Tapi saat ini keduanya sama saja, terasa serupa. "Dahulu masa masih kuliah aku tak pernah berpikir bahwa soal cinta akan rumit begini," katanya lagi. Aku hanya diam mendengarkan. Membiarkannya mengoceh soal hidupnya. "Yang ku suka telah dipinang orang, bro." Wah ini berat, kataku membatin. Aku tak berani komentar. Ku biarkan saja dulu ia menumpahkan semuanya. "Aku bukannya tak terima, tapi sekedar bingung apa ujungnya. Aku terlalu lelah mencari yang baru. Itu butuh banyak energi untuk memulai perkenalan lagi. Sedang yang lama belum lagi menepati hati." Aduh, makin susah mengimbangi percakapannya itu. Terlalu berat dibahas pada jam dua siang. Alhasil, hanya suara kipas angin yang menderu-deru mengusir hawa panas ruangan saja yang terdengar. 

Cukup lama kami saling diam. Ia menerawang langit-langit sedang aku menatap lurus sambil sesekali menghela nafas. Persis seperti adegan orang frustrasi di film-film kalau ku ingat-ingat lagi. Lucu yang sedih; sedih yang lucu. Lalu aku memecah kebuntuan itu. "Aku pernah diberitahu kalau berbeda antara suka, cinta, dan sayang," kataku. Ia melirikku dengan kepala yang masih tersandar pada punggung kursi. "Katanya, kalau suka itu ada ego untuk memiliki tanpa peduli apakah yang disukainya tersakiti atau tidak; sayang berarti peduli dan menuntut agar yang disayanginya menjadi lebih baik; sedangkan cinta membolehkan seseorang rela berkorban demi kebahagiaan yang dicintanya itu." Ia masih diam. "Mestinya bila kau menyebut cinta maka tak ada kecewa pada apa yang membuatnya bahagia," bergetar ujung lidahku kala menyebutnya sebab sadar kalau itu mudah diucap tapi sungguh berat bila dibuat. Lalu semua kembali sunyi. Ia tak mengucap apapun dan aku menuntaskannya sampai di situ. 

Sebelum pulang, ia berterima kasih. Katanya terima kasih atas percakapan yang membangkitkan. Kemudian ia mengucap kalimat yang ku ucap padamu di awal tadi, "Serahkan saja pada jalannya Tuhan, maka semua akan menjadi yang semestinya." Begitulah kami berpisah. Entah kapan akan bertemu lagi, tapi perpisahan kali ini diiringi doa agar ketika bertemu semuanya telah membaik. 

Komentar

Posting Komentar