Kunjungan Ibu
Pagi tadi sekitar pukul delapan lewat tiga puluh ibuku bertolak kembali setelah tiga hari menjengukku di sini, di perantauan yang telah ku tetapi enam tahun lamanya. Aku mengiringnya menaiki mobil yang akan mengantarnya ke bandar udara. Aku menyalami tangannya, mencium pipi kiri-kanan dan keningnya. Aku melambaikan tangan sampai kaca jendela tumpangannya tertutup penuh lalu hilang di tikungan jalan. Semua masih terasa biasa hingga aku membuka pintu dan seketika disergap bau ibu yang masih tertinggal menyesaki seluruh ruangan. Kelakarnya seperti masih terdengar menggema di antara dinding-dinding kamar. Aku menuju dapur lalu tercium aroma lauk yang dimasaknya, bekas piring sarapannya, dan lantai kamar mandi yang masih basah. Entah mengapa mataku berkaca. Tak lagi tertahan. Aku menangis seperti anak kecil. Aku merindukannya. Aku menginginkannya kembali ke sini. Dinda, aku baru saja dikunjungi ibuku. Saat aku menulis surat ini kepadamu, air mata pagi tadi memang telah mengering tapi rindu ...