Tawakal
Dinda, kau pernah patah hati? Kalau aku pernah. Malu mengaku tapi ku rasa kau perlu tahu. Kau perlu tahu kalau aku tak sekuat itu; tak setegar yang kau dengar dari orang-orang. Dinda, aku malu mengaku lagi tapi aku ini pengecut juga. Ingin mengecap manis tapi tak siap merasa pahit. Berhasrat pada bahagia tapi enggan merasa derita. Padahal khatam kajiku kalau tak ada tikungan tak berbalas, tak ada lereng selalu melainkan tanjakan di muka telah menunggu. Dinda, kini kau tahu lelaki macam apa aku ini dan sebab kau sudah tahu yang itu, maka akan ku beritahu juga kau yang ini. Dinda, sekalipun lara mengancam agar tak lagi bertaruh nasib, tapi aku ini jenis manusia nekat. Nekatlah yang membabat ragu. Nekat menjemput berani lalu mewujud jadi kata dan tingkah. Maka meski tahu tinggi jalan menanjak, ku daki jua atas yakin melihat padang bunga di sebaliknya; meski beribu kelokan tajam, ku tempuh juga bila mengarah pada tujuan yang lama didamba. Dahulu nekadku adalah pertar...